Setelah selesai aku pun duduk manis di bangku kesayanganku.Tak lama kemudian bel mengumandang tanda pelajaran segera di mulai.Ibu Ratih seorang guru killer sebenarnya berhati lembut berusaha sembunyi dari gelar yang kami beri.Ia menyuruh kami mengumpulkan tugas hasil dari penelitian masing-masing.Tak kusangka selembar kertas berharga itu lenyap dari dalam tas ku.Padahal aku telah mati-matian mengerjakan tugas langka itu.
Ku bayangkan raut wajah yang memerah layaknya harimau bersiap menerkam mangsanya berada tepat di depan ku.Hentakan keras membuyarkan lamunan ku ternyata harimau tersebut telah di depan mata.Suasana hati bercampur aduk rasa takut,malu semua tumbuh jadi satu.Bagaimana tidak malu aku ingat sekali ucapan itu "Barang siapa yang tidak mengerjakan tugas dari ibu akan mendapatkan hukuman yang setimpal" audah seperti hadis saja ucapan itu,"ujar ku.Satu-persatu bangku telah beliau periksa.Saat ini adalah giliran ku dengan tubuh yang rapuh.Tugas yang kamu kerjakan mana nak,"tanya Bu Ratih.Saya telah mengerjakan tugas itu Bu tetapi tercecer dirumah,"ujar ku.Dengan raut wajah yang kesal ia menatap ku.Aku pun hanya bisa berdiam diri saat Bu Ratih memanggilku untuk menghadapnya.Seluruh teman dikelas menertawakanku.Ibu tidak bisa mentoleransi kesalahan kamu nak karena Ibu tidak ingin kamu mengulangi kesalahan yang sama.Jadi Ibu memberi hukuman kepadamu,"kata Bu Ratih.Apa itu Bu? tanya ku.Hormatilah bendera itu hingga jam pelajaran Ibu selesai.Baiklah,"ujar ku.
Cuaca tampaknya menambah berat hukuman ku.Panasnya menusuk kulit hingga ke tulangku.Setiap siswa yang lewat di depan ku hanya menertawakan keadaanku saat itu.Ketiga kalinya rasa malu ini menyelimuti hidupku.Bagaikan gemuruh kian menerpa.Lalu hatiku bertanya-tanya " Mengapa di akhir bulan ini kesialan yang ku dapatkan bukan kebahagiaan.Dan sesosok bayangan menjawab " Bukan kesialan yang engkau dapatkan saat ini tetapi pelajaran berharga yang harus kau terapkan.
Karya : Sastratika Imra Puspita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar